Manusia sebagai makhluk sosial tak bisa hidup tanpa orang lain. Ungkapan ini hendak menjelaskan bahwa tiap orang membutuhkan interaksi dan hubungan terhadap orang lain untuk memecahkan masalah dalam hidup.

Ada banyak alasan mengapa orang butuh berinteraksi, seperti untuk kebutuhan sosial (social needs). Dalam pengertian positif, hubungan sosial dapat mendorong tercapainya kemajuan dan tujuan atau mengembangkan potensi diri.

Bersyukurlah sebab era teknologi informasi semakin canggih dan maju yang memudahkan orang-orang terhubung secara global. Asalkan tersambung dengan jaringan internet.

Baca juga: Melihat Penyebab Krisis Air Bersih di NTT

Platform media sosial seperti Facebook, Twitter, Instagram dan lain-lain menjadi tempat ideal bertemu dan berinteraksi di dunia maya. Orang-orang saling berkomentar dan membagikan foto mereka.

Tak jarang fungsi media sosial dimanfaatkan untuk kepentingan lebih luas, misalnya menjalin kerja sama bisnis, pemasaran bahkan mencari jodoh.

Saat ini, pencarian jodoh bukan hal ganjil dilakukan di media sosial. Jika di dunia nyata sulit menemukan orang yang tepat, carilah kesempatan di media sosial.

Secara khusus, beberapa perusahaan mengembangkan aplikasi yang melayani kebutuhan tersebut.

Match Group, misalnya, menciptakan aplikasi kencan Tinder yang populer di Indonesia dan negara lain. Di samping itu, ada Badoo, Tantan dan sederet aplikasi kencan lain yang jamak digunakan orang Indonesia.

Lewat aplikasi kencan online, orang-orang bisa menemukan pasangan sesuai kriteria dan jenis kelamin mereka.

Baca juga: Bagaimana Polusi Cahaya Ganggu Kesehatan dan Keselamatan? Simak Penjelasannya

Cara penggunaan aplikasi kencan pun dirancang mudah dan sederhana. Tinder memiliki fitur match di mana dua pengguna yang sama-sama menyukai profil masing-masing bisa terhubung dan berkirim pesan.

Jika belum match, besar kemungkinan karena profil pengguna tak sedap untuk dilirik. Karena itu, pengguna perlu menampilkan profil dan foto diri secara berlebihan demi menarik perhatian orang lain.

Sebagaimana lazim di kehidupan, kencan di dunia maya tak jauh beda dengan dunia nyata. Ada tahap perkenalan awal sebelum bertemu langsung dan menjalani hubungan serius.

Di sisi lain, aplikasi kencan tak selalu berarti mencari jodoh. Beberapa orang juga menggunakan aplikasi kencan sekadar untuk menemukan teman obrolan.

Di Amerika Serikat, berdasarkan survei Pew Research Center pada 16 hingga 28 Oktober 2019, tiga dari sepuluh orang dewasa mengatakan mereka pernah menggunakan situs atau aplikasi kencan online.

Ilustrasi kencan
Ilustrasi kencan. (Foto: Katerina Holmes/Pexels)

Dari survey itu, 12 persen responden mengatakan telah menikah atau menjalin hubungan berkomitmen dengan seseorang yang pertama kali mereka temui melalui situs atau aplikasi kencan.

Secara keseluruhan, sekitar seperempat orang Amerika mengatakan mereka pernah berkencan dengan seseorang yang pertama kali mereka temui melalui situs atau aplikasi kencan. Hasil yang cukup besar untuk mengukur keberhasilan aplikasi kencan.

Selain itu, pengguna dilaporkan cenderung menceritakan pengalaman mereka menggunakan platform kencan online secara positif ketimbang negatif.

Meski demikian, trend kencan online juga memiliki kelemahan. Sekitar tujuh dari sepuluh pengguna di AS meyakini mereka umumnya menggunakan platform aplikasi kencan dengan berbohong agar terlihat lebih diinginkan.

Di samping itu, situs atau aplikasi kencan bisa menjadi tempat bagi perilaku mengganggu atau melecehkan, terutama kepada wanita di bawah usia 35 tahun.

Sebanyak 60 persen pengguna wanita berusia 18 hingga 34 tahun mengaku seseorang di situs atau aplikasi kencan terus menghubungi mereka setelah mengatakan mereka tidak tertarik.

Lalu sebanyak 57 persen responden melaporkan pernah dikirim pesan atau gambar seksual eksplisit yang tak mereka minta.

Tinder kembangkan fitur pelacakan riwayat kriminal orang

Pengalaman-pengalaman tak menyenangkan bukan hal baru dalam memulai hubungan. Sebelum kemajuan teknologi baru, perbuatan melecehkan juga pernah diterima kaum hawa dari pasangannya.

Karena itu, langkah antisipasi atas peluang kekerasan patut menjadi perhatian bagi pengguna, terlebih pengembang aplikasi.

Sekarang, langkah antisipasi kejahatan kencan online sedang digarap Match Group untuk aplikasi Tinder.

Aplikasi ini bakal mengembangkan fitur pelacakan riwayat kriminal seseorang lewat kerja sama dengan platform Garbo.

Aplikasi kencan online Tinder
Tinder. (Foto: ALAMY/The Sun Irish)

Baca juga: Sejarah Kelam Berlalu, Serbia Bantu Bosnia Vaksin Covid-19

“Sudah lama wanita dan kelompok termarjinalkan di seluruh dunia menghadapi hambatan terhadap sumber daya dan keamanan,” kata kepala keamanan dan advokasi sosial Match Group, Tracey Breeden, mengutip Mashable.com, Selasa, 16 Maret 2021.

Riwayat kejahatan dan kekerasan orang akan diambil dari catatan publik. Pengguna cukup memasukkan nama depan dan belakang atau nomor telepon untuk mendapatkan riwayat kekerasan, pelecehan dan kriminal orang bersangkutan.

Dengan demikian, kaum hawa memiliki pertimbangan kuat sebelum memutuskan match terhadap profil seseorang.

Namun, tak semua data akan disampaikan karena Garbo hanya bekerja untuk data yang tersedia. Kasus-kasus kecil denda parkir tak ditampilkan, begitu juga untuk kasus kepemilikan narkoba.

Mengapa demikian? Sebabnya, masalah kepemilikan narkoba di Amerika cenderung bias mendera orang-orang termarjinalkan sehingga kurang proporsional.

Uji coba fitur akan berlangsung selama beberapa bulan yang diharapkan dapat terimplementasi pada akhir tahun ini.

Langkah antisipasi terhindar kejahatan di aplikasi kencan

Selain mengandalkan fitur Garbo, antisipasi dari diri sendiri tetap dibutuhkan untuk meminimalisir potensi kejahatan dari orang-orang di aplikasi kencan online.

Mengutip laman rainn.org, organisasi anti kekerasan seksual yang berbasis di Amerika, berikut ini 6 tips antisipasi mencegah kejahatan dalam aplikasi kencan online.

  1. Hindari terhubung dengan profil mencurigakan yang memberikan sedikit informasi di bio profilnya.
  2. Cari informasi orang tersebut melalui media sosial mereka untuk memastikan mereka tidak mencoba untuk menipu lewat aplikasi kencan. Jika mencurigakan, segera untuk memblokir dan melaporkan pengguna.
  3. Jangan menanggapi permintaan bantuan keuangan seberapa meyakinkan dan memaksa orang tersebut dalam meminta.
  4. Jangan terburu-buru untuk memberikan informasi pribadi seperti nomor telepon, detil kartu kredit, informasi bank, alamat rumah dan kantor.
  5. Lakukan panggilan video sebelum bertemu langsung untuk pertama kalinya. Jika mereka beberapa kali beralibi menolak panggilan video, itu bisa menjadi tanda aktivitas yang mencurigakan.
  6. Menyambung poin nomor lima, untuk pertemuan pertama, lakukanlah di tempat umum yang ramai. Hindari ajakan bertemu di rumah, apartemen, atau tempat kerja. Tempat yang cocok adalah kafe atau restoran yang memiliki banyak orang di sekitarnya.

Baca juga: Artidjo Alkostar Sosok yang Menakutkan Bagi Koruptor Itu Berpulang