Setiap orang punya kisah cinta yang unik. Ada yang penuh warna-warni bahagia tapi ada juga yang diselimuti duka. Bahkan ada yang memberi pelajaran berharga dalam hidup dan menciptakan perubahan besar. Setiap kisah cinta selalu menjadi bagian yang tak terlupakan dari kehidupan seseorang.
Ya, sampai saat ini, masih terngiang dalam ingatan. Lelakiku, kekasih pertamaku pergi meninggalkanku. Kira-kira satu tahun yang lalu. Malam hari sebelum hari itu datang, kami bersua melalui layar gawai. Aku berada di kamar kosku, waktu itu dia tak berujar sepatah kata pun, hanya menatapku diam. Aku tak menduga sama sekali, bahwa itu adalah tatapan terakhir di antara aku dengannya. Saat itu, aku berada di perantauan tempatku mengenyam pendidikan.

Lalu, kabar itu membuyarkan pagiku, sedih, lemas, rasanya lututku tak kuat menopang tubuhku ini. Aku kehilangan kekasihku yang telah menemaniku sedari dulu. Ya, bapakku pergi selamanya meninggalkanku dan keluargaku. Pagi itu, teman kosku bergegas mengantarku ke stasiun, aku lalu mengirim pesan singkat kepada dosenku untuk membatalkan bimbingan. Melompong, kosong, di sepanjang perjalanan aku hanya terdiam dan menahan isak tangis. Oh iya, tak lupa aku mengabari pujaan hatiku, “Mas, Bapak meninggal,” kurang lebih seperti itu pesannya.

Hubunganku dengan pujaan hatiku sudah berjalan begitu lama. Dia adalah sosok lelaki yang baik, kedua orangtuaku sudah mengetahui hubungan kami. Namun saat itu, hubungan kami sedang kurang harmonis. Kami jarang berkomunikasi, dia memintaku untuk melakukan itu, bersabar menunggu dan menunggu. Kami menjalin hubungan jarak jauh (long distance relationship). Aku berada di Yogyakarta dan dia bekerja di Cikarang.

Tak lama dia membalas pesanku, meneleponku, mencoba menguatkanku. Buyar, semua seakan tak berarti. Aku hanya tetap menangis, menangis, dan menangis. Air mataku mengalir terus-menerus. Sampai tiba di stasiun tujuan, kerabatku sudah menunggu di pintu keluar. Sepanjang perjalanan dari stasiun ke rumah aku pun melompong, rasanya kosong. Lalu sesampainya di rumah, aku tak kuasa menahan air mataku. Sudah begitu ramai orang di halaman rumah, aku masuk ke dalam ruang tamu. Kutemukan keranda yang sudah siap dibawa. Aku memeluk ibuku aku menangis sejadi-jadinya. Lemas sekali rasanya, aku tak menyangka, aku tak kuasa.