Selama ini saat mengunjungi website sebuah perusahaan di Indonesia, saya sering menggunakan panggilan “Pak” atau “Bu” untuk bertanya pada customer service melalui aplikasi live chat yang tersedia. Nanti mungkin saya tidak akan lagi menggunakan panggilan itu ketika chatbot atau bot telah diterapkan di semua perusahaan di Indonesia untuk menggantikan peran customer service. Bukannya aneh memanggil mesin dengan “Pak” atau “Bu”? Di Indonesia sendiri, dua perusahaan telekomunikasi, yaitu Telkomsel dan XL Axiata, baru-baru ini memperkenalkan chatbot mereka yang berperan sebagai asisten virtual. Milik Telkomsel diberi nama Veronica, sedangkan milik XL Axiata diberi nama Maya. Veronica dan Maya memberikan pelayanan yang sama dengan customer service, bahkan lebih cepat dan akurat dalam memberikan tanggapan. Kini saya merasa bahwa roda revolusi industri keempat benar-benar bergulir hingga ke Indonesia. Memang bagaimana sebenarnya revolusi industri keempat? Sebagaimana revolusi industri pertama hingga ketiga, revolusi industri keempat juga didorong kemajuan teknologi. Jika pada revolusi industri pertama teknologi mendorong mekanisasi, yang kedua elektrifikasi, yang ketiga otomatisasi, pada revolusi industri keempat teknologi mendorong digitalisasi, di mana pertukaran data lewat kabel optik dilakukan secara masif untuk melangsungkan berbagai aktivitas manusia, termasuk aktivitas ekonomi. Digitalisasi memungkinkan aktivitas ekonomi dilakukan jauh lebih mudah dari sebelumnya. Berbelanja dapat dilakukan cukup dengan melihat representasi virtual atau gambar dari barang atau makanan yang ingin kita beli, memilih lalu membayarnya lewat layanan transfer e-banking atau produk teknologi finansial. Dibanding sebelumnya, revolusi industri keempat semakin banyak mengurangi kerja-kerja fisik. Namun sebenarnya tak hanya mengurangi kerja fisik, melainkan juga kerja mental, dalam artian kerja-kerja yang melibatkan proses pemecahan masalah. Pengembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) yang terus dilakukan memungkinkan berbagai aktivitas pemecahan masalah dikerjakan oleh sebuah perangkat lunak. Hal ini membuat revolusi industri keempat juga identik dengan otomatisasi tingkat lanjut, yang tentu saja terintegrasi dengan sistem digital. Seperti chatbot atau bots yang saya sebutkan tadi misalnya, telah mengotomatisasi banyak layanan yang sebelumnya diperankan manusia. Berperan sebagai customer service, chatbot yang dilengkapi teknologi AI dan natural language processing (NLP) mampu berlagak seperti manusia dengan memberikan jawaban yang pas atas pertanyaan konsumen melalui pesan instan. Bila dikombinasikan dengan teknologi lainnya, chatbot mampu melayani pemesanan, membantu transaksi online, hingga melakukan fungsi-fungsi lain, seperti menerjemahkan dan mengelola keuangan.