Selama ini yang berkembang dimasyarakat apabila mendengar kata “politik” selalu negatif. Faktanya banyak sekali yang akhirnya enggan peduli perihal politik, semuanya seakan-akan tidak mau tahu tentang politik. Hal ini juga yang kemudian mendorong banyak golongan pemuda untuk menghindari politik. Padahal banyak sekali pemuda yang mengkritik dan berkeluh kesah tentang kehidupanya di Indonesia. Dengan alih-alih tidak mau tahu pemuda-pemudi lebih bersifat apolitis dan mereka lebih senang menghindari hal yang berbau politik. Itu semua bukan tanpa sebab, selama ini mereka hanya belajar atau tahu politik melalui sumber-sumber yang tidak bisa di pertanggung jawabkan secara ilmiah atau mereka mengenal politik hanya sebatas karena perilaku elit-elit politik itu sendiri.

Bebricara politik tentu hal ini tidak bisa terlepas dari kehidupan sehari-hari. Segala sesuatu yang dilakukan di dalam sebuah negara tentu saja tumbuh secara alamiah politik tersebut. Benar apa yang dikatakan oleh Aristoteles bahwa manusia adalah makhluk politik(Zoon Politicon). Sadar atau tidak sebenarnya ketika pemuda memilih untuk tidak berpolitik, mereka sebenarnya sedang berpolitik, akan tetapi mencoba mendominasi dan merebut kekuasaanya sendiri. Dengan cara menghindari, bukan tidak mungkin hal ini akan di ikuti oleh pemuda lainya. Akan tetapi politik yang seperti ini haruslah di hindarkan di dalam sebuah bangsa dan negara. Politik yang netral dan tidak mau tahu, haruslah di singkirkan di dalam benak setiap pemuda Indonesia. Karena dalam proses memperbaiki bangsa dan negara memerlukan politik sebagai cara untuk mewujudkanya. Benar yang selama ini ada di Indonesia hanya sebatas politik artsial atau hanya ada dipermukaan, harusnya pemuda mulai belajar politik substansial. Yang memiliki kejelasan untuk merubah segala sesuatu di dalam negaranya. Yang membentuk stigma negatif tentang politik memang kebanyakan adalah perilaku dari elit-elit politik itu sendiri. Oleh karena itu perlu dibangun pendidikan politik secara fundamental dan bersifat Bottom up.

Sudah tidak zaman lagi pemuda bersifat apolitis. Di zaman yang dinamis ini perlu disiasaati dengan pola pikir yang harus terus bergerak ke arah perbaikan. Ketidakpedulian pemuda perihal politik sejatinya telah memberi kesempatan kepada garong-garong yang memanfaatkan politik untuk kepentinganya sendiri. Sekali lagi, ketidakpeduliaan pemuda hanya memberi peluang untuk negara lain melakukan penjajahan dengan cara baru ke negara Indonesia. Tentu saja hal ini sangat berbahaya untuk keberlangsungan sebuah negara. Tingginya angka pemuda di Indonesia tentu saja memberikan peluang yang besar untuk perubahan negara Indonesia. Harapan-harapan itu selalu ada, tentu saja apabila di iringi dengan pola pikir yang selalu berubah kearah keabaikan. Pemuda di Indonesia harus sadar bahwa politik adalah cara untuk memperbaiki segala hal yang buruk di negaranya. Tanpa peduli kepada politik pemuda hanya sebatas menjadi alat yang akan di manfaatkan para garong untuk terus melakukan penindasan. Pemuda Indonesia harus segera membangun kekuatan dari bawah, merangkul semua elemen masyarakat tertindas, memberikan pencerdasan dan penyadaran kepada mereka dan yang terpenting melakukan gerakan yang merubah segala hal yang buruk di Indonesia. Aku, kamu, kita, harus berpolitik !