Gelombang Korea atau yang akrab disebut Korean Wave (hallyu) tidak lagi asing di Indonesia. Banyak generasi muda yang menggilai budaya Korea, hingga melupakan budaya sendiri sebagai identitas yang dimiliki. Berbagai kalangan baik anak-anak, remaja, hingga orang dewasa mengenal dan menggilai budaya yang dipopulerkan oleh Negeri Gingseng tersebut. Tahun 2013 lalu BBC (British Broadcasting Corporation) mengeluarkan data yang menunjukkan bahwa Indonesia merupakan negara di Asia Tenggara yang paling terkena pengaruh budaya Korea. Sebanyak 79% penduduk Indonesia mengenal hallyu dan memandang positif dari persebarannya. Munculnya angka prosentase sebesar itu menjadi menakutkan lantaran Indonesia yang kaya akan ragam budaya, tetapi masyarakatnya lebih mengetahui bahkan lebih menggandrungi budaya negara lain Kecintaan masyarakat Indonesia terhadap Korean wave tidak terlepas dari pengaruh globalisasi. Fenomena yang menyebabkan semakin memudarnya batas kedaulatan negara ini menjadi momok tersendiri bagi sebuah negara yang bangsanya kurang mengakui bahkan mencintai nilai-nilai dan budaya yang menjadi identitas diri mereka. Semangat Korea dan Cultural  Imperialism di Indonesia Gelombang Korea menjadi semarak dan mendapatkan posisinya di dunia internasional seperti sekarang belum mencapai usia 10 tahun. Tetapi masyarakat berbagai belahan dunia seperti Amerika, Asia, dan Eropa telah mengenal bahkan menimbulkan sikap fanatik yang luar biasa. Hal ini menjadi sorotan dunia internasional dan menimbulkan pertanyaan apa yang memicu populernya budaya Korea di masyarakat internasional? Sehingga publik internasional menggandrungi bahkan mencintai budaya yang dipopulerkan oleh Negeri Gingseng tersebut. Rencana mempopulerkan hallyu pada dasarnya telah lama dimiliki oleh Bangsa Korea. Sejak sebelum Korea Selatan merdeka, yaitu ketika rezim Park Cung-hee memimpin, kesadaran akan pentingnya budaya telah disadari, tetapi belum mempunyai sumbangsih yang signifikan terhadap pengembangan popularitas hallyu di dunia. Perkembangan hallyu di dunia internasional dimulai sejak Kim Dae-jung memimpin Korea pada 1998-2003. Usaha mempopulerkan hallyu semakin menguat lantaran tahun 2001 pemerintah Korea membentuk KOCCA (Korean Culture and Content Agency). Perkembangan hallyu mengalami peningkatan ketika Korea Selatan dipimpin oleh Roh Moo-hyun pada 2003-2008 yang memperkenalkan hallyu dengan jalan pertukaran budaya antar negara. Kenaikan popularitas hallyu sangat dirasakan pada saat Presiden Lee Myung-bak memimpin Korea Selatan pada 2008-2013. Presiden Lee memanfaatkan perkembangan teknologi dan globalisasi untuk menaikkan popularitas hallyu hingga terasa sampai sekarang.